Sunday, October 4, 2015

Cerpen - Calon Cinta Hakiki



CALON CINTA HAKIKI

Sudah sekian tahun aku tidak menemui orang tuaku di Kerinci, rasanya ingin pecah hatiku merindukan mereka, harus ku akui menimba ilmu di rantau orang menyiksa, batinku perih, uang adalah pemikiran kedua paling utama setelah belajar menggapai mimpi. Aku sekarang sedang menimba ilmu di SMAN 5 Payakumbuh di Sumatra Barat. Rindu akan kampung halaman setiap hari mengusikku, bukannya aku tidak mau belajar di SMA-SMA di Kerinci tapi keluarga kami tergolong keluarga yang sangat-sangat sederhana, kebetulan ayah mempunyai sahabat dekat di Payakumbuh dan mau menyekolahkanku secara gratis disana dan berjanji akan mengusahakan beasiswa jika aku dapat peringkat 5 besar di sekolah.
            Aku tergolong anak yang cukup cerdas, beberapa mata pelajaran mampu kukuasai dengan cepat, tapi sangat kurang di bidang kesenian seperti memainkan alat music dan menari, hal yang hampir mustahil kulakukan denga tubuh kakuku. Di payakumbuh aku diberi tempat kos oleh sahabat ayah itu, sungguh laki-laki yang baik hati batinku setiap melihat paman buya. Bukan, buya bukan nama sahabat ayahku itu, tapi beliau disebut seperti itu karena pendalaman beliau terhadap agama. Beliau tidak segan menceramahiku apabila aku membuat kesalahan di sekolah. Paman buya telah mengangapku seperti anaknya sendiri.
            Karena keseringan belajar aku tidak peduli dengan yang namanya pacaran seperti selayaknya remaja-remaja putri sebayaku. Yang kutau hanya belajar dan belajar agar bisa masuk universitas dan mencdapat pekerjaan yanglayak agar orang tuaku tidak sengsara dihari tua mereka.
            Tapi jujur sebagai seorang remaja yang baru merasakan aneh jika berdekatan dengan lawan jenis, terkadang aku selalu canggung ketika berada di antara laki-laki dikelas, tapi hanya satu yang memikat hatiku dari kelas 10, namanya Robi. Laki-laki yang selalu kejar-kejaran prestasi denganku. Kadang aku juga merasa dia sering memperhatikanku. Itu yang membuatku ragu, aku takut jatuh cinta padanya, aku takut mengecewakan ayah dan ibuku di kampung karena hal ini.
            “selamat pagi anak-anak, hari ini kita belajar di ruang kesenian, jadi kalian yang punya bakat di bidang seni dan ingin menampilkannya harap lapor kepada bapak, dan dapat tambahan nilai” Seorang guru gagah berbicara singkat didepn kelas, setelah itu langsung lenyap menuju ke ruang kesenian.
            Aduhhh!! Jeblok nilai kesenianku, praktek lagi  batinku menggerutu. Lekas aku duduk paling belakang. Kulihat Robi telah bersiap-siap dengan gitarnya.
            “lagu ini saya persembahkan untuk seorang gadis yang telah mencuri perhatian saya, Alisya”  terdengar Robi melantunkan lagu Adera-Lebih indah.
            Deggg, jantungku terasa berhenti ketika namaku disebut oleh Robi, mukaku memerah, terasa semua mata melihatku. bukan mata mereka yang ku takutkan ataupun Robi yang menyebutkan namaku didepan. Tapi aku hancur jika Robi benar-benar suka padaku dan ingin menjalin hubungan yang lebih serius denganku. Aku tau remaja sepertiku harusnya sudah normal jika punya pacar tapi banyak hal yang harus ku pertimbangkan terutama sekolahku.
            Sepulang sekolah, Robi mendekatiku, jantungku kembali tak terkendali.
            “Sya, kamu dengar lagu tadi gak? Lagu itu khusus buat kamu loh, karena aku suka sama kamu” Robi secara gamblang mengutarakan isi hatinya padaku. Tidak.. sungguh aku sangat ingin mengatakan perasaanku yang sebenarnya. Tapi..
            “Robi, maaf.. aku gak bisa, maaf banget bi, bukannya aku gak suka sama kamu, tapi banyak hal yang harus aku pertimbangkan sebelum nerima kamu” kurasakan hujan keringat di sela-sela hidungku.
            “Hey, wake up. Aku Cuma bilang suka sama kamu, aku gak butuh jawaban kamu, hanya saja memang lebih indah kalau kamu bisa jadi pacarku. Tapi, aku mengerti keadaanmu, kamu jauh dari orang tua dan merantau kesini untuk masa depan yang lebih baik, terutama masa tua ayah dan ibumu kan, aku memakluminya, ayahku selalu saja membanggakanmu dirumah, itu yang membuatku bangga dan lama kelamaan suka dengan sikap dewasamu. Dan aku juga sudah tau kamu akan berbicara seperti itu”
            Hari itu aku tau kebenaraan bahwa Robi adalah anak angkat dari Paman buya, karena memang paman buya dan sang istri tidak mempunyai anak. Hatiku lega mendengar penjelasannya. Setelah hari itu aku semakin kagum pada Robi. Kami tetap berteman seperti biasa, paman buya sering menyuruhku belajar bersama dengan Robi di rumahnya.
            Sungguh, bila aku bisa memilih calon imamku kelak, laki-laki seperti Robi lah idamanku. Tak satupun cinta yang mempu mengalahkan cinta hakiki pada-Nya, dan tak ada satupun sayang melebihi sayang orang tua pada anaknya.
            Tak salah jika hati mencinta, salah jika salah arah mendeskripsikannya. Jalani saja rindu yang membelenggu, tak satupun rindu yang tak berbuah pilu. Cintai saja dia sewajarnya dan sekedarnya.