CALON CINTA
HAKIKI
Sudah sekian tahun aku tidak menemui orang
tuaku di Kerinci, rasanya ingin pecah hatiku merindukan mereka, harus ku akui
menimba ilmu di rantau orang menyiksa, batinku perih, uang adalah pemikiran
kedua paling utama setelah belajar menggapai mimpi. Aku sekarang sedang menimba
ilmu di SMAN 5 Payakumbuh di Sumatra Barat. Rindu akan kampung halaman setiap
hari mengusikku, bukannya aku tidak mau belajar di SMA-SMA di Kerinci tapi
keluarga kami tergolong keluarga yang sangat-sangat sederhana, kebetulan ayah
mempunyai sahabat dekat di Payakumbuh dan mau menyekolahkanku secara gratis
disana dan berjanji akan mengusahakan beasiswa jika aku dapat peringkat 5 besar
di sekolah.
Aku tergolong anak yang cukup
cerdas, beberapa mata pelajaran mampu kukuasai dengan cepat, tapi sangat kurang
di bidang kesenian seperti memainkan alat music dan menari, hal yang hampir
mustahil kulakukan denga tubuh kakuku. Di payakumbuh aku diberi tempat kos oleh
sahabat ayah itu, sungguh laki-laki yang
baik hati batinku setiap melihat paman buya. Bukan, buya bukan nama sahabat
ayahku itu, tapi beliau disebut seperti itu karena pendalaman beliau terhadap
agama. Beliau tidak segan menceramahiku apabila aku membuat kesalahan di
sekolah. Paman buya telah mengangapku seperti anaknya sendiri.
Karena keseringan belajar aku tidak
peduli dengan yang namanya pacaran seperti selayaknya remaja-remaja putri
sebayaku. Yang kutau hanya belajar dan belajar agar bisa masuk universitas dan
mencdapat pekerjaan yanglayak agar orang tuaku tidak sengsara dihari tua
mereka.
Tapi jujur sebagai seorang remaja
yang baru merasakan aneh jika berdekatan dengan lawan jenis, terkadang aku
selalu canggung ketika berada di antara laki-laki dikelas, tapi hanya satu yang
memikat hatiku dari kelas 10, namanya Robi. Laki-laki yang selalu kejar-kejaran
prestasi denganku. Kadang aku juga merasa dia sering memperhatikanku. Itu yang
membuatku ragu, aku takut jatuh cinta padanya, aku takut mengecewakan ayah dan
ibuku di kampung karena hal ini.
“selamat pagi anak-anak, hari ini
kita belajar di ruang kesenian, jadi kalian yang punya bakat di bidang seni dan
ingin menampilkannya harap lapor kepada bapak, dan dapat tambahan nilai”
Seorang guru gagah berbicara singkat didepn kelas, setelah itu langsung lenyap
menuju ke ruang kesenian.
Aduhhh!!
Jeblok nilai kesenianku, praktek lagi batinku menggerutu. Lekas aku duduk paling
belakang. Kulihat Robi telah bersiap-siap dengan gitarnya.
“lagu ini saya persembahkan untuk
seorang gadis yang telah mencuri perhatian saya, Alisya” terdengar Robi melantunkan lagu Adera-Lebih
indah.
Deggg, jantungku terasa berhenti
ketika namaku disebut oleh Robi, mukaku memerah, terasa semua mata melihatku.
bukan mata mereka yang ku takutkan ataupun Robi yang menyebutkan namaku
didepan. Tapi aku hancur jika Robi benar-benar suka padaku dan ingin menjalin
hubungan yang lebih serius denganku. Aku tau remaja sepertiku harusnya sudah
normal jika punya pacar tapi banyak hal yang harus ku pertimbangkan terutama sekolahku.
Sepulang sekolah, Robi mendekatiku,
jantungku kembali tak terkendali.
“Sya, kamu dengar lagu tadi gak?
Lagu itu khusus buat kamu loh, karena aku suka sama kamu” Robi secara gamblang
mengutarakan isi hatinya padaku. Tidak.. sungguh aku sangat ingin mengatakan
perasaanku yang sebenarnya. Tapi..
“Robi, maaf.. aku gak bisa, maaf
banget bi, bukannya aku gak suka sama kamu, tapi banyak hal yang harus aku
pertimbangkan sebelum nerima kamu” kurasakan hujan keringat di sela-sela
hidungku.
“Hey, wake up. Aku Cuma bilang suka
sama kamu, aku gak butuh jawaban kamu, hanya saja memang lebih indah kalau kamu
bisa jadi pacarku. Tapi, aku mengerti keadaanmu, kamu jauh dari orang tua dan
merantau kesini untuk masa depan yang lebih baik, terutama masa tua ayah dan
ibumu kan, aku memakluminya, ayahku selalu saja membanggakanmu dirumah, itu
yang membuatku bangga dan lama kelamaan suka dengan sikap dewasamu. Dan aku
juga sudah tau kamu akan berbicara seperti itu”
Hari itu aku tau kebenaraan bahwa
Robi adalah anak angkat dari Paman buya, karena memang paman buya dan sang
istri tidak mempunyai anak. Hatiku lega mendengar penjelasannya. Setelah hari
itu aku semakin kagum pada Robi. Kami tetap berteman seperti biasa, paman buya
sering menyuruhku belajar bersama dengan Robi di rumahnya.
Sungguh, bila aku bisa memilih calon
imamku kelak, laki-laki seperti Robi lah idamanku. Tak satupun cinta yang mempu
mengalahkan cinta hakiki pada-Nya, dan tak ada satupun sayang melebihi sayang
orang tua pada anaknya.
Tak salah jika hati mencinta, salah
jika salah arah mendeskripsikannya. Jalani saja rindu yang membelenggu, tak
satupun rindu yang tak berbuah pilu. Cintai saja dia sewajarnya dan sekedarnya.
No comments:
Post a Comment